Analisis Profil Degradasi Performa Django pada Arsitektur Containerized dan Non-Containerized di VPS
Deployment aplikasi web sering menghadapi masalah perbedaan lingkungan antara tahap pengembangan dan server produksi (dependency hell). Docker menjadi salah satu solusi karena dapat mengemas aplikasi beserta dependensinya ke dalam kontainer yang konsisten dan mudah dipindahkan. Namun, penggunaan Docker tetap perlu dievaluasi dari sisi performa, terutama pada server dengan sumber daya terbatas. Penelitian ini membandingkan performa aplikasi Django pada arsitektur containerized dan non-containerized di VPS 2 vCPU dan RAM 4 GB. Pengujian dilakukan menggunakan load testing dengan peningkatan Virtual Users (VU) secara bertahap pada metode GET dan POST. Metrik yang dianalisis meliputi throughput, response time, P95, P99, error rate, CPU, dan RAM. Hasil pengujian menunjukkan bahwa arsitektur non-containerized memiliki response time 13,21–31,82% lebih rendah dan throughput 2,51–4,81% lebih tinggi dibandingkan containerized. Penggunaan CPU dan RAM pada containerized juga lebih tinggi, masing-masing hingga 4,20 dan 0,93 poin persentase. Degradasi performa GET mulai terlihat pada 200 VU, sedangkan POST pada 400 VU. Error rate tetap 0% pada seluruh skenario. Kesimpulannya, non-containerized lebih sesuai untuk mengejar performa maksimal pada VPS terbatas, sedangkan Docker tetap layak digunakan jika prioritasnya adalah kemudahan deployment dan portabilitas.
URI
https://repository.itera.ac.id/depan/submission/SB2606290087
Keyword
Django Docker Containerized Non-Containerized Load Testing VPS